Kamis, 04 Februari 2016

ASKEP CHRONIC MYELOID LEUKIMIA (CML)



MATERI SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN  PASIEN DENGAN DIAGNOSA KOLABORATIF KEPERAWATAN NYERI
CHRONIC MYELOID LEUKIMIA (CML)


 


Disusun Oleh :
1.      Mardani Banapon                         (P27820714005)
2.      Anindya Hidayaturrohma             (P27820714011)
3.      Fenika Nikmatul Rizki                 (P27820714026)
4.      Fitrah Nurani Erba Putri               (P27820714030)
5.      Panji Putro Pamungkas                (P27820714033)







D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
S U R A B A Y A
TAHUN AKADEMIK 2015/2016





LAPORAN PENDAHULUAN
  
A.    Pengertian
Leukimia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang limfa (Reeves, 2001). Sifat khas leukimia adalah poliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi poliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan infasi organ non hematolgis, seperti meningis traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit. Bentuk kronis dari penyakit ini adalah leukimia mielogen kronis (CML).
Leukimia mielogen kronis adalah salah satu penyakit mieloid sel darah putih dan hal ini di kaitkan dengan munculnya kromosom filadelfia abnormal pada hampir 90% kasus.
Cronic myeloid leukimia disebut juga sebagai chronik granulocytic leukimia adalah gangguan myeloproliferasi yang di tandai oleh peningkatan poliferasi dari granulosit tanpa menghilangnya kemampuan granulosit untuk berdiferasi
B.     Etiologi
CML lebih sering terjadi pada orang dewasa. Menurut berbagai literatur dan berbagai sumber dari para ahli, Tidak ada bukti klinis yang jelas tentang penyebab utama penyakit CML. Akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukimia yaitu:
1.      Faktor genetik: virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (tcell leukimia-lymphoma virus/ HTLV)
2.      Radiasi lonisasi: lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya
3.      Terpapar zat-zat kimiawai seperti benzen, arzen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik
4.      Obat-obatan immunosupresif, obat karsinogenik seperti diethystilbestrol
5.      Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
6.      Kelainan kromosom
C.     Patofisiologi
Adanya proliferasi myoblast sehingga myoblast bersaing dengan sel normal untuk mendapatkan nutrisi dengan cara infiltrasi sel normal di gantikan dengan myoblast. Dengan adanya myoblast akan terjadi depresi sumsum tulang yang akan yang mempengaruhui eritrosit, leukosit, faktor pembekuan, dan akan terjadi infiltrasi ekstra modular  dan ssp serta akan mempengaruhui metabolisme sehingga sel akan kekuranagan makanan. Pada orang normal, tubuh mempunyai tiga jenis sel darah yang matur.
1.      Eritrosit, yang berfungsi untuk melawan infeksi  dan sebagai pertahanan tubuh
2.      Leukosit, yang berfungsi untuk melawan infeksi  dan sebagai pertahanan tubuh
3.      Trombosit yang berfungsi unutuk mengontrol faktor pembekuan didalam darah
Sel-sel darah yang belum menjadi matur (matang) di sebut sel-sel induk (stem cell) dan blast. Kebanyakan sel-sel darah menjadi dewasa di dalam sumsum tulang dan kemudian bergerak ke dalam pembuluh-pembuluh darah dan jantung di sebut peripheral blood (Sherwood, 2001). Tetapi pada orang dewasa di dalam sumsum tulang dan kemudian bergerak ke dalam pembuluh darah dan jantung di sebut  peripheral blood (Sherwood, 2001). Tetapi pada orang dengan chronikmyelogenous leukimia (CML), proses terbentuknya sel darah terutama sel dara putih di sumsum tulang mengalami kelainan atau mutasi. Hal ini disebut kromosom 9 dan kromosom 22 (Hoffbrand, 2005)
D.    Klasifikasi
CML sering di bagi menjadi tiga fase berdasarkan krakteristik klinis dan hasil laboratorium. CML di mulai dengan fase kronik, dan setelah beberapa tahun berkembang menjadi akselarasi dan kemudian menjadi fase krisis blast. Krisis blast adalah tingkatan akhir dari CML, mirip seperti leukimia akut.
1.      Fase kronis
85% pasien dengan CML berada pada tahapan fase kronik pada saat mereka di diagnosa dengan CML. Selama fase ini, pasien selalu tidak mengeluhkan gejala atau hanya ada gejala ringan seperti cepat lelah dan perut terasa penuh. Lamanya fase kronis bervariasi dan tergantung seberapa dini penyakit tersebut telah di diagnosa dan terapai yang di gunakan pada saat itu juga. Tanpa adanya pengobatan yang adekuat, penyakit dapat berkembang menuju kefase akselerasi.
2.      Fase akselerasi
Pada fase akselerasi hitung leukosit menjadi sulit di kendalikan dan abnormalitas sitogenik tambahan mungkin timbul. Kriteria diagnosa di mana fase kronik berubah menjadi tahapan fase akselerasi bervariasi. Kriteria yang banyak di gunakan adalah kriteria yang di guanakan di MD Anderson Cancer Center dan kriteria dari WHO.

3.      Krisis blast
Krisis blast adalah fase akhir dari CML, dan gejalanya mirip seperti leukimia akut, dengan progresifitas yang cepat dan dalam jangka waktu yang pendek. Krisis blast di diagnosa apabila ada tanda-tanda sebagai berikut pada pasien CML:
a.       ≥ 20% myeloblasts atau lymphoblasts di dalam darah atau sumsum tulang
b.      Sekelompok besar dari sel blast pada biopsi sumsum tulang
c.       Perkembangan dari cloroma
E.     Manifestasi Klinis
Umumnya gejala CML pada anak-anak. Biasanya tidak spesifik, seperti fatigue, malaise dan penurunan berat badan. Abdominal discomfort, yang di sebabkan oleh splenomegali, biasanya juga di jumpai. Gejala biasanya tidak nyata dan diagnosa sering di tegakkan bila pemeriksaan darah di lakukan atas alasan lain. Hipermetabolisme, termasuk kehilangan berat badan, anoreksia dan keringat malam. Gejala leukostasis seperti gangguan penglihatan atau priapismus, jarang terjadi.
Pasien sering asimptomatik pada saat pemeriksaan hanya ditemukan peningkatan leukosit pada pemeriksaan jumlah leukosit dalam pemeriksaan darah. Pada keadaan ini CML harus dibedakan dari reaksi leukemoid yang mana pada pemeriksaan darah tepi memiliki gambaran yang serupa. Gejala dari CML adalah malaise, demam, gout atau nyeri sendi, meningkatnya kemungkinan infeksi, anemia, trombositopenia, mudah lebam dan terdapatnya spenomegali pada pemeriksaan fisik.
Gambaran klinis CML
Umum :                                                    Jarang :
a.       Fatigue                                              a.   Nyeri tulang
b.      Berat badan menurun                       b.   Perdarahan
c.       Abdominal discomfort                     c.   Berkeringat
d.      Asimtomatik                                     d.   Demam
e.    Leukosis
f.    Gout
 g.   Speen infark
Mayoritas anak anak dijumpai splenomegali, penemuan lain biasanya tidak spesifik. Hepatomegali teraba (1-2 cm) tetapi hepatomegali hebat limfadenopati sangan tidak umum kecuali penyakit itu sudah fase lanjut atau blast krisis.tanda lekositosis (eg. Retinal hemoragik, pupil edema, pnapismus). Biasanya kelihatan pada saat lekosit tinggi (>300x 10 g/L). Beberapa laporan menduga bahwa tanda tanda CML lebih umum pada anak anak dari pada dewasa, walaupundari 40 anak anak hanya 3(7,5%) yang mengalami lekositosis. Nodul di kulit akibat deposit leukemic (chloromas) jarang dijumpai biasanya di hubungan dengan fase lanjut atau blast krisis.
F.      Penatalaksanaan
1.      Pelaksanaan kemoterapi
2.      Iridasi kranial
3.      Terdapat tiga fase pelaksanaan kemoterapi :
a.    Fase induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakan. Pada terapi ini diberikan terapai kortikosteroid (predsison) vincristin dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sel sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
b.    Fase profilaksis sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methokexate, cytarabine dan hydrocotison melalui intratrkeal untuk mencegah invasi sel leukimia ke otak. Terapi iridasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
c.       Konsilidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisis dan untuk mengurangai jumlah sel sel leukimia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk merespon sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis dikurangi.
G.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan pada kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya pensitopenia limfositosis yang menyebabkan darah tepi monoton dan terdapat sel blast.
2.      Kimia darah
3.      Sumsum tulang
4.      Biopsi limfe
Memperlihatakan poliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfe yang terdesak seperti limfosit normal. RES-cairan sereblospinalis terdapat peninggian jumlahsel patologis dan protein.
5.      Sitogenik
Menunjukan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom philadelpia atau PHI
  

ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

I.     PENGKAJIAN
A.    Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah pengumppulan informasi tentang pasien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah masalah serta kebutuhan kebutuhan keperawatan dan kesehatan pasien
1.      Identitas pasien
Meliputi nama, umur, biasanya penderita Cronik Mielositik Leukimia (CML) lebih sering  ditemukan pada anak anak(82%) dari usia dewasa (18%) dan lebih sering ditemukan pada laki laki dari pada wanita.
2.      Keluhan utama
Pada umumnya pasien dengan CML akan mengeluh adanya gejala gejala spesifik seperti panas, nyeri, mengeluh lemah dan adanya perdarahan.
3.      Riwayat penyakit dahulu
a.       Antenatal : ibu menderita leukimia
b.      Natal : −
c.       Post natal : −
4.      Riwayat penyakit keluarga
Kemungkinan keluarga ada yang menderita penyakit leukimia, anemia dan lain lain yang berkenaan dengan hematologi.
5.      Riwayat penyakit sekarang
Pasien dengan CML biasanya diawali dengan adanya tanda tanda seperti pucat yang disertai panas mendadak, perdarahan (epistalesis, perdarahan gusi).
B.     Pemeriksaan
1.      Umum
Meliputi keadaan umum penderita,status kesehatan umum, kesadaran, tinggui badan, berat badan, suhu, nadi, tekanan darah dan pernafasan penderita.
2.      Fisik
Wajah         = pucat
Mata           = konjungtiva anemis, perdarahan retina, pupil edema
Hidung       = epitaksis
Mulut         = gusi berdarah, bibir pucat, hipertrofi gusi, stomatitis
Leher          = pembesaran kelenjar getah bening, faringiti
Dada          = nyeri tekan pada tulang dada, terdapat efusi pleura
Abdomen   = hepatomegali, splenomegali, limfodenopati
Keletal       = nyeri tulang dada dan sendi
Integumen  = purpura, chimosis, ptekie, mudah menat
3.      Laboratorium
a.       Amunsang pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya pansitipenia, limfositosis, yang menyebabkan darah tepi menurun dan terdapat sel blast
b.      Kimia darah
Kolesterol kemungkinan rendah, asam urat meningkat
c.       Pemeriksaan sumsum tulang
Pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel 1 limfopoetik patologis, sedangkan system lain terdesak
d.      Biopsi limfa
Memperlihatkan poliferasi sel leukimia dan sel yang berasal dari jaringan limfa yang terdesak
e.       Cairan serebrospinal
Terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein
f.       Sitogenik
Menunjukan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom philadelphia) kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul resiko infeksi sehubungan dengan ketidak efektifan sistem imun
C.     Aktifitas Kehidupan Sehari hari
1.      Persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Bagaimana pengetahuan pasien tentang penyakit CML terutama tentang pemeliharaan kesehatannya.
2.      Nutrisi
Adakah penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan
3.      Eliminasi
Apakah terjadi konstipasi dan diare
4.      Aktifitas
Apakah ada keluhan lemas, lelah, nyeri sendi
5.      Istirahat
       Sering tidur
6.      Personal Hygiene
       Terganggu

II.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resiko Infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh.
2.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia.
3.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah.
4.      Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dan leukemia.
5.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.

III.     RENCANA TINDAKAN
Dx 1                : Resiko Infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem
                        pertahanan tubuh.
Tujuan             : Pasien bebas dari infeksi.
Kriteria Hasil  :  a. Normotemia
                          b. Hasil kultur negative
                          c. Peningkatan penyembuhan
Rencana Tindakan:
1.      Pantau suhu dengan teliti (TTV)
R/: Untuk mendeteksi kemungkinan infeksi.
2.      Tempatkan pasien dalam ruangan khusus
R/: Untuk meminimalkan terpaparnya pasien dari sumber infeksi.
3.      Menggunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif.
R/: Untuk mencegah kontaminasi silang atau menurunkan risiko infeksi.
4.      Berikan periode istirahat tanpa gangguan.
R/: Menambah energy untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
5.      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik sesuai ketentuan
R/: Diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus.

Dx 2                : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan akibat
                        anemia.
Tujuan             : Terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Kriteria Hasil  :  a. Pasien tidak pusing
b. Hb 12 gr/%
c. Leukosit normal
d. Tidak anemis 
Rencana tindakan:
1.      Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
R/: Menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan.
2.      Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan.
R/: Mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi.
3.      Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi.
R/: Memaksimalkan sediaan energi untuk perawatan diri
4.      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian transfusi darah.
R/: Transfusi darah dapat meningkatkan kadar hemoglobin di dalam diri pasien.

Dx 3                : Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
                        mual dan muntah.
Tujuan             : Tidak terjadi kekurangan volume cairan, pasien tidak mengalami
                        mual dan muntah.
Kriteria Hasil  :  a. Klien tidak lemah dan anemis
                           b. Turgor kulit membaik
                           c. Mukosa bibir lembab, tidak sianosis
Rencana tindakan:
1.      Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi.
R/: Untuk mencegah mual dan muntah
2.      Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi.
R/: Untuk mencegah episode berulang
3.      Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat.
R/: Bau menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
4.      Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering.
R/: Karena jumlah kecil biasanya di toleransi dengan baik
5.      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian cairan intravena sesuai terapi yang telah ditentukan

Dx 4                : Nyeri yang berhubungan dengan efek psikologis dan leukemia.
Tujuan             : Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat
                        yang dan diterima pasien.
Kriteria Hasil  :  a. Pasien secara verbal mengatakan nyeri berkurang/ hilang.
                           b. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk
mengatasi atau mengurangi nyeri.
                 c. Pergerakan penderita bertambah luas.
Rencana tindakan            :
1.      Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 10.
R/ : Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau 
       keefektifan intervensi,
2.      Ciptakan lingkungan yang tenang.
R/ : Rangsangan yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri.
3.      Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
R/: Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien.
4.      Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien.
R/: Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
5.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obat anti nyeri secara teratur.
R/: Untuk mencegah kambuhnya nyeri.

Dx 5                     : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau
perubahan cepat pada penampilan.
Tujuan                  : Pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif.
Kriteria Hasil        : a. Pasien bisa menjaga dan merawat kebersihan dirinya
       sendiri.
                                         b. Keluarga tidak cemas.
                                         c. Pasien memahami instruksi dari perawat.
Rencana tindakan            :
1.      Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin atau dingin.
R/: Karena hilangnya perlindungan rambut.
2.      Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipi situ tetap bersih, pendek dan halus.
R/: Untuk menyamarkan kebotakkan rambut.
3.      Dorong hygiene dan alat-alat yang sesuai dengan jenis kelamin, misalnya wig, scarf, topi, tata rias dan pakaian yang menarik.
R/: Untuk meningkatkan penampilan.


IV.     PELAKSANAAN
     Pelaksanaan adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil efektif. Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai.

  V.     EVALUASI
     Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien dengan leukimiah adalah :
a.       Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b.      Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
c.       Pasien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
d.      Pasien menyerap makanan dan cairan agar tidak mengalami mual dan muntah.
e.       Masukkan nutrisi adekuat.
f.       Pasien beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti-bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
g.      Pasien tetap bersih.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA CHRONIC MALIGNEOUS LEUKOSIT (CML)

A.    PENGKAJIAN
Tempat                     : Ruang Pandan I  RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No. Registrasi           : 1242XXXX
Tanggal Pengkajian  : 13 Oktober 2015
Tanggal MRS           : 17 September 2015
              I.     Data Subyektif
1.    Biodata
a.    Nama                             : Tn. M
b.    Umur                              : 55 tahun
c.    Jenis kelamin                  : Laki-laki
d.   Alamat                           : Jl. Kramat Temenggung Sidoarjo
e.    Suku/bangsa                   : Jawa/Indonesia
f.     Status perkawinan         : Menikah
g.    Agama                           : Islam
h.    Pendidikan                     : SD
i.      Pekerjaan                       : Kuli Bangunan
j.      Diagnosa Medis             : Chronic Myloid Leukimia (CML)
2.    Riwayat Keperawatan
a.    Keluhan Utama
Pasien mengeluh nyeri.
P : Nyeri ditimbulkan karena aktifitas dan gangguan pembentukan     
leukosit di tulang belakang
Q : Nyeri seperti tertusuk-tusuk, terasa perih
R : Nyeri terpusat di tulang belakang
S : Nyeri berada pada skala 6, dari skala 1 sampai 10
T : Nyeri  kadang-kadang muncul
b.    Riwayat Keluhan Utama
Pasien mengatakan badannya lemas dan nyeri tulang belakang sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, Hb pasien turun kurang dari 6.
c.    Upaya yang Dilakukan
Setelah mengeluh nyeri dan lemas, pasien dibawah ke salah satu Rumah Sakit di Mojokerto pada tanggal 14 September 2015, dirasa belum ada perubahan pasien kontrol di pli posa RSUD Dr. Soetomo pada tanggal 17 September 2015.
d.   Riwayat Penyakit Sekarang
Setelah mengeluh badannya lemas, pasien dirujuk di rumah Sakit di Mojokerto pada tanggal 14 September 2015, pasien merasa belum ada perubahan lalu pasien kontrol di poli posa RSUD Dr. Soetomo pada Tanggal 17 September 2015, setelah di observasi kembali dokter menyarankan untuk dilakukan rawat inap karena pasien penurunan Hb.
e.       Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan tidak mempunyai penyakit apapun sebelum di diagnosa penyakit Chronic Myeloid Leukimia 3,5 tahun yang lalu.
f.       Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan didalam keluarganya tidak ada riwayat penyakit seperti yang diderita pasien saat ini yaitu Chronic Myeloid Leukimia (CML), dan keluarga pasien mengatakan tidak mempunyai riwayat DM, hipertensi maupun stroke.
Genogram :






Keterangan :
                        = Laki-laki
                        = Laki-laki meninggal
                        = Perempuan
                        = Perempuan meninggal
                        = Penderita
                        = Garis pernikahan
                        = Garis keturunan
                        = Tinggal serumah


e.       Riwayat Kesehatan Lingkungan
Pasien mengatakan tinggal dirumah yang tidak begitu bersih karena dekat dengan pabrik dan pasien bekerja sebagai buruh bangunan.
f.       Riwayat Psikososial
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat gangguan psikososial.
3.    Pola Fungsi Kesehatan
a.    Pola Persepsi – pemeliharaan kesehatan
SMRS    : Pasien mengatakan tidak pernah merokok, mandi 2x sehari,
                 sikat gigi 2x sehari pada pagi dan malam hari.
MRS      : Pasien mengatakan sejak masuk rumah sakit mandi hanya 1x
                 sehari terkadang juga tidak mandi karena kondisi badan pasien yang lemas nyeri tulang belakang.
b.    Pola Aktivitas dan Latihan
SMRS    : Pasien mengatakan bahwa aktivitasnya sehari-hari adalah
sebagai kepala keluarga, pasien bekerja sebagai buruh bangunan.
MRS      : Pasien mengatakan setelah di diagnosa penyakit CML pasien
               sudah tidak bekerja lagi, aktivitas sehari hari hanya di atas tempat tidur terkadang bermain hp.
c.    Pola Nutrisi – Metabolisme
SMRS    : - Pasien mengatakan makan 3x sehari yang terdiri dari nasi,
lauk, dan sayur, pasien juga selalu menghabiskan porsi makannya.
- Pasien minum air putih ±1000 ml/hari
MRS      : - Pasien mengatakan nafsu makan menurun, pasien
                   mendapatkan diet lunak TKTP dari rumah sakit.
                                      - Pasien minum air putih ±1000 ml/hari
d.   Pola Eliminasi
SMRS    : BAB 1x sehari, warna kuning kecokelatan dengan konsistensi
padat, bau khas feses. BAK ±5-8 kali sehari, warna kuning jernih, bau khas urine.
MRS      : BAB 1x sehari, warna kuning kecokelatan dengan konsistensi
padat, bau khas feses. BAK ±3-5 kali sehari, warna kuning jernih, bau khas urine.
e.    Pola Tidur – Istirahat
SMRS    : Pasien mengatakan tidur siang mulai pukul 12.00-14.00 dan
                 tidur malam  mulai pukul 21.00-04.00
MRS      : Pasien mengatakan 1 jam sekali pasien terbangun karena rasa nyeri.
f.     Pola Hubungan dan Peran
SMRS    : Keluarga pasien mengatakan hubungan pasien dengan
               keluarganya, tetangga, maupun rekan kerja baik.
MRS      : Keluarga pasien mengatakan keluarga selalu menjaganya dan
  hubungan pasien dengan pasien lain dan perawat juga baik.
g.    Pola Sensori – Kognitif
SMRS    : Pasien mengatakan tidak punya gangguan pada mata dan
               telinga
MRS      : Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada mata tetapi
  telinga terasa berdenging.
h.    Pola Persepsi – Konsep Diri
SMRS    : Pasien mengatakan ia adalah orang yang percaya diri.
MRS      : Pasien mengatakan ia tetap percaya diri meskipun kondisinya
               sakit.
i.      Pola seksual reproduksi
     Pasien memiliki 2 anak semuanya berjenis kelamin laki-laki.
j.      Pola mekanisme kopping stres
                          Pasien memahami tentang penyakit yang dideritanya.
k.    Pola tata nilai kepercayaan
SMRS    : Pasien mengatakan beragama Islam dan rutin menjalankan
               sholat.
MRS      : Pasien beribadah dengan kondisi keterbatasan fisiknya.

           II.     DATA OBJEKTIF
1.      Keadaan umum    : cukup (gelisah)
2.      GCS                     : 456
3.      Tanda-tanda vital
a.       Tekanan darah     : 130/90 mmHg
b.      Nadi                    : 74x/menit
c.       Suhu                    : 36˚C
d.      Pernafasan           : 19x/menit
4.      Tinggi badan        : 170 cm
5.      Berat badan          : 65 kg


6.      Pemeriksaan fisik
a.       Kepala
Inspeksi   : warna rambut hitam, penyebaran merata, tidak terdapat
                 ketombe/kotoran
Palpasi     : tidak terdapat benjolan
b.      Mata
Inspeksi   : tidak terdapat sekret, conjungtiva anemis, penglihatan
                 baik
c.       Hidung
Inspeksi   : bentuk simetris, tidak ada pembengkakan, tidak terdapat
                 sekret
d.      Mulut
Inspeksi   : mukosa bibir kering dan pucat, tidak terdapat lesi
e.       Telinga
Inspeksi   : bersih, tidak terdapat serumen, tidak ada lesi
Palpasi     : tidak terdapat benjolan, tidak ada peradangan,
                 pendengaran baik
f.       Leher
Inspeksi   : warna kulit merata, tidak terdapat lesi
Palpasi     : tidak terdapat pembesaran vena jugularis pada leher
g.      Dada/Thorak
Inspeksi      : bentuk dada simetris, tidak terdapat lesi, warna kulit
                   merata
Palpasi        : tidak terdapat benjolan, pengembangan paru kiri dan
                   kanan sama
Perkusi       : bunyi suara janting S1, S2 tunggal
Auskultasi  : vesikuler
h.      Abdomen
Inspeksi         : tidak terdapat lesi, tidak ada luka bekas operasi, ada
pembesaran abdomen sebelah kiri pada organ lambung, warna kulit merata
Palpasi           : adanya ptekie, ada nyeri tekan perut sebelah kiri
                      (kuadran kiri atas) karena perbesaran kelenjar limfe
Auskultasi     : bising usus 8x/menit
Perkusi          : bunyi timpani
i.        Genetalia      
Inspeksi         : tidak terpasang karteter urine
Palpasi           : tidak terkaji
j.        Ekstremitas
Atas       : tangan kanan terpasang infus, pergerakan lemah, refleks
                bisep dan trisep baik
Bawah   : pergerakan lemah refleks patela baik, refleks bisep dan
                trisep baik
k.      Kulit
Pucat, turgor buruk, tekstur halus
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Hasil Pemeriksaan Patologi Klinik
                  Tanggal : 2 Oktober 2015
Pemeriksaan
Hasil Pemeriksaan
Nilai Normal
HGB
7,9
L = 13,3 - 16,6 g/dL
P = 11,0 - 14,7 g/dL
RBC
2,88
3,69 - 5,46 (10^6/uL)
HCT
23,5
L = 41,3 - 52,1 %
P = 35,2 - 46,7 %
MCV
81,6
86,7 - 102,3 fL
WBC
1,59
3,37 - 10 (10^3/uL)
b.      Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik
Tanggal : 2 Oktober 2015
Pemeriksaaan
Hasil
Satuan
Nilai Normal
GGDT
31
u/L
L = 0-50


P = 0-35
GGPT
47
u/L
L = 0-50


P = 0-35
Albumin
3,8
g/dL
3,4 – 5,0
Total protein
7
g/dL
6,4 – 8,2
Globulin
3,2
g/dL
3,2 – 3,9
Direk bilirubin
0,69
mg/dL
0,00 - 0,20
Total bilirubin
1,51
mg/dL
0,2 - 1,00
BUN
14
mg/dL
7 – 18
Kreatinin serum
1,0
mg/dL
0,6 - 1,3
Asam urat
2,9
mg/dL
2,6 - 7,2

Terapi yang diberikan
1.      Infus
a.       Infus aminofluid : Pz = 1:2
b.      Infus = 21 tpm
2.      Injeksi
a.       Injeksi ranitidine         2 x 2mg (pukul 08.00 dan 20.00)
b.      Injeksi ceftriaxone 1 x 1gr  (pukul 08.00)
c.       Ketorolax                    2 x 10 mg
3.      Obat oral
a.       Asam folat       3 x 1 tablet 1mg
b.      PCT                 3 x 1 tablet 500m



ANALISA DATA
NO
PENGELOMPOKAN  DATA
KEMUNGKINAN PENYEBAB
MASALAH
1.
























2.

Ds: Pasien mengatakan nyeri pada tulang belakang

Do : Tanda-tanda vital
Tekanan darah: 130/90 mmHg
Nadi                : 74x/menit
Suhu                : 36˚C
Pernafasan       : 19x/menit
Skala nyeri : 6 dari (1-10)
P : Nyeri ditimbulkan karena aktifitas dan istirahat di tempat tidur
Q :Nyeri seperti tertusuk-tusuk, terasa perih
R : Nyeri terpusat di tulang belakang
T : Nyeri  kadang-kadang muncul dengan frekuensi rata rata setiap 3 jam
Pasien terlihat gelisah


Ds: Pasien mengatakan badannya lemas sejak 1 minggu yang lalu dan adanya perdarahan pada gusi

Do : -   Konjungtiva anemis
-       Pasien terlihat lemas
-       Tanda-tanda vital
TD            : 130/90 mmHg
Nadi          : 74x/menit
Suhu          : 36˚C
Pernafasan : 19x/menit
-          Hb : 9,9 g/dL
-          PCT : 6000 /uL
-          Kekuatan otot
        3   3
        3   3
Faktor predisposisi leukimia


 
Leukiemia


 
CML
 

Leukositopeni


 
Myloproliferasi


 
Infiltrasi sumsum tulang


 
Retraksi reseptor
Nervus ending


 
Nyeri tulang belakang






Faktor Internal (Genetik imunologi)


 
Leukemia


 
Leukosit memfagosit eritrosit dan trombosit
 

Potensial terjadi perdarahan


 
Penekanan BM gangguan pembentukan komponen darah


 
Anemia
 

Lemah


 
Ganngguan gerak dan aktifitas

Nyeri
























Intoleransi Aktifitas

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama/Umur       : Tn M / 55 Th
Nomor Register : 12425725
Diagnosa Medis            : Chronic Myloid Leukemia (CML)
Ruangan            : Ruang Pandan 1 RSUD Dr.Soetomo
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TANGGAL
NAMA JELAS
DITEMUKAN
DIATASI
1.

















2.
Nyeri yang berhubungan dengan infiltrasi sumsum tulang yang di tandai dengan
Do: TD : 120/80 mmHg
N   : 75 x/menit
R   : 18 x/menit
Skala nyeri : 6 dari (1-10)
P : Nyeri ditimbulkan karena aktifitas dan gangguan pembentukan leukosit di tulang belakang
Q :Nyeri seperti tertusuk-tusuk, terasa perih
R : Nyeri terpusat di tulang belakang
T : Nyeri  kadang-kadang muncul
Pasien terlihat gelisah


Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia yang di tandai dengan penurunan kadar Hb 9,9 g/dL dan pndarahan gusi























13 Oktober 2015
















13 Oktober 2015




RENCANA KEPERAWATAN

Nama/Umur       : Tn M / 55 Th
Nomor Register : 12425725
Diagnosa Medis            : Chronic Myloid Leukemia (CML)
Ruangan            : Ruang Pandan 1 RSUD Dr.Soetomo
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
RENCANA TINDAKAN
RASIONAL
KRITERIA HASIL
1.








































2.














Nyeri yang berhubungan dengan infiltrasi sumsum tulang dari leukemia




































Intoleransi aktifitas berhubungan dengan anemia yang di tandai dengan penurunan kadar Hb 9,9 g/dL dan pendarahan gusi
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam, nyeri hilang atau berkurang

KH :
-  Nyeri hilang atau berkurang menjadi skala 3
-  Pasien tampak rileks dan mampu beristirahat dengan tepat


























Tujuan :
Setelah dilakukan asuahan keperawatan selama 2x24 jam, pasien tidak mengalami tanda-tanda perdarahan

KH :
-  TTV Normal
TD : 120/80 mmHg
N   : 70-80 x/menit
S   : 36,6-37,5C
R   : 16-20 x/menit
-  Tidak terdapat pendarahan
-  Hb
L: 14-18 g/dL
P : 12-16 g/Dl
1.    Kaji tingkat nyeri
Setiap 6 jam




2.    Cek monitoring vital sign TD,N,S,RR setiap 6 jam



3.    Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres, batasi pengunjung
4.    Tempatkan pada posisi yang nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantalan
5.    Anjurkan teknik manejemn nyeri, relaksasi: tarik nafas dalam


6.    Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi obat Injeksi ranitidine 2 x 2mg (pukul 08.00 dan 20.00)
Injeksi ceftriaxone 1 x 1gr  (pukul 08.00)
Ketorolax 2 x 10 mg
Obat oral
Asam folat 3 x 1 tablet 1mg
PCT 3 x 1 tablet 500mg


1.    Mengobservasi tanda-tanda vital





2.    Membatasi aktivitas fisik



3.    Anjurkan untuk bedrest




4.    Berkolaborasi dalam pemberian tranfusi TC 10 bag

5.    Pantau adanya pendarahan
1.    Membantu mengkaji kebutuhan untuk intervensi, mengindikasi terjadinya komplikasi
2.    Membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan kefefektifan intervensi
3.    Meningkatkan istirahat dan mningkatkan kemampuan koping
4.    Dapat menurunkan ketidaknyamanan tulang sendi

5.    Memudahkan relaksasi, terapi farmakologi tambahan dan meningkatkan kemampuan koping
6.    Untuk mengurangi rasa nyeri














1.    Untuk mengetahui batas normal tanda-tanda vital pasien
TD : 120/80mmHg
N   : 70-80 x/menit
S   : 36,6-37,5C
R   : 16-20 x/menit
2.    Memaksimalkan sediaan energi untuk berktivitas atau perawatan diri
3.    Menghemat energi untuk aktfitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan
4.    Tranfusi darah dapat meningktkan kadar Hb didalam darah pasien.
5.    Untuk mencegah adanya pendarahan kembali





































PELAKSANAAN

NO DIAGNOSA
TANGGAL/
JAM
TINDAKAN KEPERAWATAN
TANDA TANGAN
DX No. 1

































DX No. 1


































DX No. 2
































DX No. 2
13 Oktober 2015/
08.00




08.30




09.30






10.10






11.00


11.30





14 Oktober 2015/
15.00



16.00




17.30






18.30



19.00





19.30







13 Oktober 2015/
08.30




09.00





09.30




10.00





10.30

11.00



12.00



14 Oktober 2015/
15.30




16.00




16.30

17.00




1        Memberikan injeksi:
a.       Ceftriaxon 1 x 1g
b.      Ranitidin   1 x 2mg
c.       Ketorolax  1 x 10mg

2.      Mengkaji tingkat nyeri dengan menggunakan menanyakan skala nyeri 1-10
R/ : Pasien mengatakan nyeri pada skala 6 dan nyeri hilang dan timbul

3.      Observasi tanda-tanda vital:
TD : 120/80 mmHg
N   : 75 x/menit
S    : 36,5C
RR : 18 x/menit


4.     Memberikan lingkungan yang tenang pada pasien dengan mengurangi penjenguk yang ada
R/ : Pasien dan kluarga pasien awalnya tidak setuju dengan pelaksanaan tersebut, tetapi setelah diberikan penjelasan, keluarga pasien dapat menerimanya

5.     Anjurkan teknik manejemen nyeri, relaksasi: tarik nafas dalam

6.     Memberikan pasien posisi yang nyaman dengan memberikan bantalan di ektremitas bawah dan lengan sebelah kanan
R/ : Keluarga pasien dapat menerima tindakan tersebut bahkan sudah bisa menerimanya


1.      Memberikan injeksi analgesik dan antibiotik
  1. Injeksi ranitidin 1x ampl
  2. Injeksi ceftriaxone 1 vial

2.      Mengajarkan teknik relaksasi, misalnya tarik nafas dalam-dalam, kurangi bebas fikiran
R/ : Pasien dapat mengikuti gerakan teknik relaksasi

3.        Observasi tanda-tanda vital:
TD : 120/70 mmHg
N   : 70 x/menit
S    : 36,3C
R    : 18 x/menit


4.      Mengkaji tingkat nyeri
R/ : Pasien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang

5.     Memberikan pasien posisi yang nyaman dengan memberikan bantalan di ektremitas bawah dan lengan sebelah kanan
R/ : Keluarga pasien dapat menerima tindakan tersebut bahkan sudah bisa menerimanya

6.    Memberikan lingkungan yang tenang pada pasien dengan mengurangi penjenguk yang ada
R/ : Pasien dan kluarga pasien awalnya tidak setuju dengan pelaksanaan tersebut, tetapi setelah diberikan penjelasan, keluarga pasien dapat menerimanya



1.      Memberikan obat injeksi:
a.       Cepriaxon
b.      Ranitidin
c.       Ceftriaxon

2.      Observasi tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg
N  : 75 x/menit
S   : 36,5C
R   : 18 x/menit

3.      Mengajarkan pasien untuk aktifitas fisik, seperti BAK di pispot
R/ : Respon pasien dan keluarga baik, dapat menerima penjelasan dengan baik

4.      Menganjurkan pasien untuk bedrest segala perawatan oleh istri dan keluarga pasin, misalnya: BAK, mandi, BAB
R/ : Pasien dan keluarga pasien dapat menerima penjelasan dengan baik

5.      Dilakukan tranfusi darah TC 10  bag

6.      Mengaganti cairan infus
        Aminofluid : PZ
1        : 2

7.      Memantau adanya perdarahan
R/ : Pasien mengatakan jika gusinya masih terdapat sedikit perdarahan


1.      Memberikan injeksi:
d.      Cepriaxon
e.       Ranitidin
f.       Ceftriaxon

2        Mengajarkan keluarga pasien dalam perawatan diri, misalnya: mandi, BAK
R/ : Pasien dan keluarga pasien dapat menerima dengan baik

3        Memantau kembali adanya perdarahan

4        Observasi tanda-tanda vital:
TD : 120/70 mmHg
N   : 70 x/menit
R   : 18 x/menit













































CATATAN PERKEMBANGAN

TANGGAL
NO. Dx.KEP
PERKEMBANGAN
PELAKSANA
13 Oktober 2015









13 Oktober 2015











14 Oktober 2015












14 Oktober 2015
Dx 1










Dx 2












Dx 1













Dx 2
S  : Pasien mengatakan nyeri berada di skala 6
O : Tanda-tanda vital:
TD : 120/80 mmHg
N   : 75 x/menit
S    : 36,5C
R   : 18 x/menit
A  : Masalah belum teratasi
P   : Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5,6


S  : Pasien mengatakan gusi berdarah sedikit
O  : Konjungtiva anemis
Tanda-tanda vital :
TD : 120/80 mmHg
N    : 75 x/menit
S     : 36,5C
R    : 18 x/menit
A  : Masalah teratasi sebagian
P  : Intervensi dilanjutkan 1,2,3,4,5


S  : Pasien mengatakan nyeri sudah berkurang dan berada di skala 5 meskipun nyeri tersebut muncul lagi
O  : Pasien dapat tidur dengan posisi yang nyaman
Memantau Tanda-tanda vital:
TD : 120/70 mmHg
N    : 70 x/menit
S     : 36,3C
RR  : 18 x/menit
A  : Masalah teratasi sebagian
P  : intervensi dilanjutkan 1,2,6


S  : Pasien mengatakan gusinya tidak berdarah
O  : Kojungtiva anemis
TD : 120/70 mmHg
N    : 70 x/menit
S     : 36,3C
RR  : 18 x/menit
A  : Masalah teratasi sebagian
P   : Intervensi dilanjutkan 1,2,5






PEMBAHASAN

Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien CML dengan masalah nyeri, maka akan dibahas mengenai:
A.    Pengkajian Keperawatan
Pada pengkajian identitas, didapatkan klien  berusia 55 tahun. Hal ini biasanya penderita Cronik Mielositik Leukimia (CML) lebih sering  ditemukan pada laki-laki dari pada wanita. Hal ini sesuai dengan Teorithe Leukimia and Lymphoma Society (2009) Amerika Serikat.
Berdasarkan hasil pengkajian riwayat penyakit pada klien CML dengan masalah nyeri, klien mengalami gelisah, susah tidur. Biasanya tidak spesifik, seperti fatigue, malaise dan penurunan berat badan. Abdominal discomfort, yang disebabkan oleh splenomegali. Gejala leukostasis seperti gangguan penglihatan atau priapismus jarang terjadi. Hal ini sesuai dengan teori (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175).
Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang yang ditandai oleh proliferasi sel–sel darah putih dengan manifestasi adanya sel–sel abnormal dalam darah tepi. Pada leukemia ada gangguan dalam pengaturan sel leokosit. Leukosit dalam darah berproriferasi secara tidak teratur dan tidak terkendali dan fungsinya pun menjadi normal. Oleh karena proses tersebut fungsi–fungsi lain dari sel darah merah normal terganggu hingga menimbulkan gejala leukemia yang dikenal dalam klinik. Dari hasil pengkajian tanda dan gejala yang di dapatkan, dapat diketahui bahwa gejala penyakit CML yang mengalami nyeri antara lain adalah klien mengalami gelisah, mengeringai.
Pada riwayat penyakit dahulu, klien tidak mempunyai riwayat penyakit apapun sebelum didiagnosa penyakit CML sejak 3 tahun yang lalu dan saat ini penyakit CML timbul lagi.
Pada pengkajian pola eliminasi,  tidak di dapatkan klien dengan CML mengalami kekurang volume cairan, dengan hasil observasi BAB 1x warna kuning kecoklatan dnegan konsistensi padat, bau khas feses, BAK  3-5 kali warna kunig jernih, bau khas urine. klien tidak mengalami defisit volume cairan.
Pada pengkajian terapi medis, klien mendapatkan terapi infus: aminofluid, NaCl 0,9% (pz) 14 tpm , injeksi ranitidin 2x ampul, ceftriaxone 1 vial, ketorolax, obat gizi: asam folat 3x1, pct 3x1. Klien mendapatkan ranitidin untuk menangani gejala akibat produksi asam lambung yang berlebihan. Ceftriaxone adalah golongan antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati beberapa kondisi akibat infeksi bakteri, dan infeksi pada pasien dengan sel darah putih yang rendah. Selain itu, ceftriaxone juga bisa diberikan kepada pasien yang akan menjalani operasi-operasi tertentu untuk mencegah terjadinya infeksi. Diit klien yaitu  diit NT TKTP. Hal ini klien mendapatkan antibiotik yang dimaksudkan untuk membunuh kuman penyebab CML.
Penulis menemukan kesenjangan pada hasil pemeriksaan laboratorium bahwa secara teori pasien CML mengalami produksi sel darah putih yang belum matang secara berlebihan. Namun pada hasil laboratorium didapati nilai sel darah putih dibawah nilai normal antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus. Dari pengkajian pemeriksan fisik serta tanda dan gejalanya sesuai dengan tinjauan pustaka.

B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang terjadi pada klien adalah nyeri berhubungan dengan efek fisologis, hal ini sesuai dengan teori (Iman, 1997) yaitu Depresi sumsum tulang yang takkan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, factor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan. Adanya infiltrasi pada ekstramedular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian karena hasil pengkajian pada kedua klien mendukung diangkatnya masalah keperawatan tersebut.

C.     Perencanaan
Pada perumusan perencanaan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan yang terjadi. Pada tinjauan pustaka perencanaan menggunakan kriteria hasil yang mengacu pada pencapaian tujuan yang sesuai dengan perencanaan pada tinjauan kasus. Penulis berupaya untuk memandirikan pasien dan keluarga dalam pelaksanaan asuhan keperawatan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan dalam menyelesaikan,mengurangi masalah, dan perubahan tingkah laku
Dalam tujuan tinjauan kasus pada kedua pasien dicantumkan kriteria waktu untuk mengatasi masalah pasien secara efektif dan efisien yang disesuaikan dengan keadaan kedua pasien secara langsung. Perencanaan keperawatan yang disusun juga tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.
Pada diagnosa keperawatan nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukimia terdapat 6 perencanaan yaitu observasi tanda-tanda vital, ciptakan lingkungan yang tenang, ajarkan teknik distraksi dan relaksasi, atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obat anti nyeri secara teratur. Semua perencanaan tersebut dilakukan pada klien karena kondisi klinis klien.

D.    Pelaksanaan
Pada perencanaan, dituliskan bahwa tindakan keperawatan akan dilakukan dalam 2x24 jam, dalam  pelaksanaan sebenarnya dilakukan sesuai perencanaan yaitu  2x24 jam. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan apa yang direncanakan, dan dilakukan secara berurutan, yaitu mengobservasi tanda-tanda vital, menciptakan lingkungan yang tenang, mengajarjkan teknik distraksi dan relaksasi, mengatur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien dan berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obat anti nyeri secara teratur. Pelaksaan yang dilaksanakan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan pasien.

E.     Catatan Perkembangan
Tahap evaluasi merupakan tahap akhir dan alat ukur keberhasilan pemberian asuhan keperawatan. Pada klien masalah dapat diatasi sebagian dalam waktu 2 x 24 jam. Pada catatan perkembangan, diagnosa pertama diperoleh hasil evaluasi tindakan pertama klien mengatakan nyeri yang dialami tidak berkurang, nyeri yang dialami juga mengganggu rasa nyaman klien, tetapi pada tindakan kedua nyeri pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang, pasien juga dapat tidur dengan tenang ketika telah dilakukan asuhan keperawatan.

Follow @alkesjawatimur  




    








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Kita (Tinggal Kenangan)

Jaman SMK Makassar

Artikel Populer